Operator dan Vendor Infrastrukur Turut Ramaikan Webinar “5G dan Peran Insinyur Elektro Dalam Mengembangkan Transformasi Digital Indonesia”
Dalam event Webinar “ 5G dan Peran Insinyur Elektro Dalam Mengembangkan Transformasi Digital Indonesia” selain dihadiri oleh pejabat pemerintah, acara ini juga di hadiri oleh pihak yang mendukung ekosistem 5G lainnya termasuk dari kalangan operator dan vendor infrastruktur. Acara ini dihadiri sekitar 500 peserta, baik yang hadir melalui media Zoom Meeting maupun yang menyimak secara live streaming di kanal YouTube IEEE Indonesia Section.
Beberapa pemateri lainnya yang hadir yaitu dari Telkomsel yang mewakili operator seluler 5G, PT. Tata Sarana Mandiri (TSM) yang mewakili ekosistem 5G dari sisi perangkat keras, ShintaVR yang mewakili ekosistem 5G dari sisi aplikasi VR / AR, Asosiasi Internet of Things Indonesia (ASIOTI) yang mewakili ekosistem 5G dari aspek pemanfaatan / use case IoT, dan Schneider Electric yang mewakili pengguna 5G dari industri vertikal khususnya bidang manufaktur.

Telkomsel yang menjadi sponsor utama acara ini menjelaskan cerita dan perjuangan Telkomsel dalam mempersiapkan jaringan 5G komersial pertama di Indonesia. Indra Mardiatna dari Telkomsel menyampaikan sejumlah alasan yang mendasari Telkomsel untuk sesegera mungkin menghadirkan 5G di Indonesia serta bagaimana analisis pasar dan masa depan 5G di Indonesia.
Indra Mardiatna yang mewakili Direktur Network Telkomsel juga membagikan analisisnya bahwa diperkirakan produk 5G dari use case jenis enhanced Mobile Broadband (eMBB) akan mencapai 30 juta koneksi pada tahun 2025 dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata diperkirakan sebesar 298%. Dari proyeksi tersebut, Telkomsel ditargetkan mampu menguasai 53% dari total koneksi. Sementara perangkat 5G IoT diperkirakan akan mencapai 1,6 juta koneksi pada tahun 2025 dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 93%. Dari jumlah tersebut, Telkomsel ditargetkan dapat menguasai 87% dari total koneksi.
Di sisi teknologi, menghadirkan sejumlah vendor perangkat dan prinsipal teknologi yaitu Huawei, ZTE, Nokia, Ericsson, dan Qualcomm. Sedangkan di sisi komunitas dan akademisi menghadirkan BKE PII, IEEE Indonesia Section, dan Telkom University.
Huawei yang juga menjadi sponsor dalam acara ini mengemukakan pentingnya mengedukasi publik, termasuk para insinyur elektro, tentang besarnya potensi dan peluang yang muncul dari konvergensi 5G dengan teknologi-teknologi masa depan lainnya. Huawei juga menegaskan urgensi menggandeng industri-industri yang terkait dalam pengembangan ekosistem 5G untuk segera beradaptasi dan berkembang seiring dengan terselenggaranya digitalisasi pada industri.
Mohamad Rosidi selaku Director of ICT Strategy & Business, Huawei Indonesia juga menyampaikan contoh kasus penggunaan 5G di berbagai industri, mulai dari pengobatan pintar, pendidikan, pelabuhan pintar, pertambangan, serta pengalaman mendalam dan layanan-layanan baru yang mampu mendukung keberhasilan dan efisiensi proses bisnis. Pengembangan standar keamanan pada jaringan 5G guna memastikan keamanan di sisi jaringan, sistem informasi, serta pengalaman yang dihadirkan bagi pengguna layanan 5G juga menjadi hal yang sangat penting.
Badan Kejuruan Elektro (BKE) – Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang merupakan salah satu Badan Kejuruan di bawah Persatuan Insinyur Indonesia telah menjelaskan mengenai peran dan konsekuensi profesi Insinyur di tengah tantangan transformasi digital dan membangun kemandirian Iptek di tanah air. Dengan mengemban amanah UU no. 11 tahun 2014 tentang keinsinyuran, Badan Kejuruan Elektro (BKE ) yang bertumpu pada 3 pilar (Ketenagalistrikan, Teknologi Informasi dan Komunikasi, serta Riset dan Industri) siap mendukung implementasi 5G di era transformasi digital Indonesia.

















