Ngobrol dengan AI Berbulan-bulan, Ibu Tak Sadar Anak Sudah Meninggal
Chatbot AI lagi-lagi menjadi perdebatan setelah muncul laporan dari China tentang seorang ibu lansia yang tanpa sadar rutin berbicara dengan kloning digital putranya yang sebenarnya telah meninggal dunia. Kasus ini langsung memancing kritik karena dinilai telah melewati batas penggunaan AI.
Menurut laporan yang dikutip South China Morning Post, wanita berusia lebih dari 80 tahun itu memiliki penyakit jantung. Keluarganya memilih menyembunyikan kabar meninggalnya putra tunggal sang ibu akibat kecelakaan lalu lintas karena khawatir kondisi kesehatannya memburuk.
Kloning Digital AI, Dari Suara Hingga Wajah
Agar kebohongan itu tetap terjaga, cucunya menghubungi penyedia layanan AI. Foto, video, serta rekaman suara ayahnya diserahkan untuk membuat kloning digital yang mampu berbicara dan melakukan panggilan video layaknya orang asli.
Dalam setiap percakapan, AI tersebut mengatakan dirinya telah pindah ke kota lain sehingga belum bisa pulang. Sang ibu pun percaya sepenuhnya dan beberapa kali mengungkapkan rasa rindunya kepada sosok yang ia yakini sebagai anak kandungnya.
Baca Juga: Intel Starfire Dirilis, SoC 18A Khusus Buat di Luar Angkasa! • Jagat Review
AI itu kemudian menjawab layaknya seorang anak yang sedang merantau. Ia mengatakan sedang sibuk bekerja dan akan pulang setelah memiliki cukup uang untuk membahagiakan ibunya.
Penyedia layanan AI tersebut bahkan menyebut pekerjaannya sebagai cara untuk “menghibur orang yang masih hidup”. Namun, pernyataan itu justru memicu kritik karena banyak pihak menilai penggunaan AI untuk menutupi kematian anggota keluarga merupakan persoalan etika yang sangat serius.
Meski begitu, laporan ini juga belum dapat diverifikasi secara independen. Meski demikian, kisah tersebut memancing reaksi keras di media sosial, termasuk Reddit, dengan banyak pengguna yang menilai kebohongan seperti ini justru bisa melukai sang ibu lebih dalam ketika kebenaran akhirnya terungkap. Kalau menurut kalian, apakah penggunaan AI seperti ini bisa dibenarkan demi menjaga kondisi psikologis seseorang, atau justru sudah melewati batas etika?
















