[PR] GPU Membantu Menghindari Kemungkinan Merebaknya Wabah H1N1

Reading time:
December 17, 2012

Universitas Bristol

Latar Belakang

Sebuah laporan pada bulan Juni 2012 memperkirakan bahwa pandemi (wabah yang berjangkit serempak di dalam lingkup geografi luas) influenza H1N1 telah membunuh 284.000 orang dalam 12 bulan pertama penyebaran virus tersebut di muka bumi, dan sekitar 575.400 orang sebelum berakhirnya wabah tersebut

 Salah satu alasan utama dari tingginya angka kematian global dan tingkat infeksi yang tak kalah tinggi (89 juta orang terinfeksi, menurut Centers of Disease Control) adalah akibat kecepatan dan seringnya mutasi virus tersebut yang membuat obat-obatan anti influenza, seperti  Tamiflu® (oseltamivir) and Relenza® (zanamivir) menjadi tidak efektif.

 Sejak wabah pada tahun 2009, para peneliti di seluruh dunia telah berusaha menemukan cara untuk mengidentifikasi sebuah solusi yang bisa mengizinkan mereka untuk mengidentifikasi mutasi H1N1 baru dengan cepat dan mengembangkan obat-obatan inhibitor untuk meminimalkan penyebaran dari virus mematikan ini agar tidak menimbulkan pandemi yang luas.

NVLogo 2D

 Tantangan

Mempelajari virus seperti H1N1 dengan eksperimen laboratorium ternyata sangat susah karena reaksi yang terjadi kerap terlalu cepat dan terlalu rentan untuk didokumentasikan. Masalah ini menjadi kian rumit ketika mempelajari virus H1N1 karena tendensi mutasinya yang sangat cepat dan sering.

 Solusi

Peneliti dari University of Bristol di Inggris Raya, bersama dengan universitas Bansomdejchaopraya Rajabhat dan Chulalongkom di Bangkok, berhasil mengungkap kunci untuk memerangi mutasi virus H1N1 dengan menggunakan cluster computing kecil yang dilengkapi dengan GPU NVIDIA® Tesla®.

Dengan menjalankan simulasi canggih menggunakan AMBER molecular dynamics application, para peneliti dapat mengobservasi bagaimana mutasi H1N1 dapat mengakibatkan perubahan struktur kimia dan biologi serta sifat dari enzim kunci pada virus tersebut. Berbekal informasi ini, mereka berhasil mengungkap, untuk pertama kalinya, mekanisme H1N1 untuk menangkal obat-obatan anti-influenza.

Sistem berbasis GPU yang digunakan, memungkinkan team tersebut untuk menjalankan dan mengulang simulasi yang kompleks dalam jumlah jauh lebih besar dibandingkan yang biasanya bisa dilakukan. Kemudahan ini memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi beragam kemungkinan mutasi virus untuk menentukan apa yang membuatnya kebal terhadap obat anti-virus.

Lebih penting lagi, sistem berbasis 8 GPU dengan 4 node ini mampu menyuguhkan hasil dengan waktu hanya separuh dari yang biasa dibutuhkan. Hasil itupun diperoleh hanya dengan menggunakan 1/5 jumlah server yang biasanya diperlukan oleh cluster yang hanya bertumpu pada CPU dengan jumlah prosesor 16 hingga 24 unit.

 Hasil

Sebelumnya, penggunaan simulasi komputer untuk penemuan obat-obatan baru dan pencegahaan penyakit cenderung terbatas karena besarnya dan mahalnya superkomputer yang diperlukan untuk mempelajari sistem biologi. Sekarang, sebuah server kecil berbasis GPU sudah dapat memberikan akses ke performa ekstra tinggi bagi para peneliti dalam upaya mendorong penemuan-penemuan ilmiah terbaru.

 Berdasarkan terobosan penelitian yang dilakukan oleh team Bristol, sekarang sudah ditemukan cara untuk mendesain obat inhibitor untuk menanggulangi kemungkinan mutasi H1N1 di masa mendatang, dan ini diharapkan bisa menekan efek dari epidemi yang mungkin terjadi. Sebuah karya tulis dengan detail dari temuan para peneliti telah diterbitkan dalam edisi terkini Biochemistry. 

 

Share

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

October 29, 2026 - 0

Review Lenovo Legion Pro 5i Gen 10: Laptop Gaming Premium dengan RAM 32 GB Paling Worth It?

Ini adalah laptop High Performance kelas atas yang super worth…
October 28, 2026 - 0

Review HP Omnibook Ultra 14 (2026): Super Tipis, Desain Mewah, Performa Maksimal

Ini adalah laptop kelas premium dari HP yang beneran mewah!…
October 26, 2026 - 0

Review Infinix XBOOK 14 Neo: Laptop 2026 yang Terjangkau, Ringan, dng Warna Bodi Ceria

Laptop dengan nama “NEO” ini ternyata harganya mulai dari 7…
October 23, 2026 - 0

Review Axioo Hype Ai 5 (G3): Kencang & Irit dgn Intel Core Series 3 Wildcat Lake, Harga Terjangkau!

Ini salah satu laptop “Core 5 Series 3” paling terjangkau…

Gaming

October 31, 2026 - 0

Honkai: Star Rail Version 4.7 Bawa Kisah Penutup Planarcadia Arc

Honkai: Star Rail Version 4.7 akhirnya membawa kisah penutup dari…
October 31, 2026 - 0

Visa Gandeng MOONTON Untuk Perkuat Ekosistem Gaming Indonesia

Visa berkolaborasi dengan MOONTON sebagai Global Payment Partner M Series…
October 31, 2026 - 0

GameSir G7 Pro Controller Bawa Nuansa Vice City Dari GTA 6

GameSir luncurkan G7 Pro Sunset Boulevard dan Ocean Breeze, hadirkan…
October 31, 2026 - 0

Nintendo Indie World Showcase Pamerkan 23 Game Indie

Nintendo Indie World Showcase untuk Oktober 2026 menampilkan 23 game…