[PR] Virtualisasi Diperkirakan Membantu Perusahaan Menghindari USD98 Miliar Biaya TI di Asia Pasifik
USD25.6 miliar biaya yang dapat dihindari sampai tahun 2012; dan akan meningkat dengan tambahan USD72.7 miliar sampai 2020
Di Indonesia dampak positif ekonomi dari virtualisasi server sampai 2020 dapat mencapai USD1.25 miliar
JAKARTA, 19 September 2013 — VMware, Inc. (NYSE: VMW), pemimpin global virtualisasi dan infrastruktur cloud, meluncurkan kampanye Virtualisasi 2020 sebagai usaha untuk membantu pebisnis berpindah dari komputasi era client server ke era mobile cloud. Sebagai langkah awal, VMware mensponsori IDC Server Economies Index untuk memperlihatkan potensi virtualisasi di Asia Pasifik, yang mengungkap dampak virtualisasi server di Asia-Pasifik.
![[PR] Virtualisasi Diperkirakan Membantu Perusahaan Menghindari USD98 Miliar Biaya TI di Asia Pasifik 1 VMWare](https://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2013/09/VMWare-500x333.jpg)
Dengan judul Vision 2020: Virtualization’s Potential US$98 Billion Impact (July 2013, IDC#AP77008W), penelitian itu memperlihatkan belanja sebesar USD98 miliar dapat dihindari di kawasan Asia Pasifik dari 2003-2020 di wilayah belanja server, daya dan pendinginan, ruang lantai dan biaya tenaga kerja dan biaya-biaya perusahaan. Laporan penelitian itu memberikan sebuah analisa 10 tahun kebelakang dan melihat ke depan sampai 2020.
“Penelitian baru ini adalah bukti dampak dengan nilai keuangan dari virtualisasi terhadap bisnis. Virtualisasi adalah fondasi transformasi data center dan evolusi cloud computing, jadi ini adalah puncak dari gunung es,” kata Andrew Dutton, senior vice president and general manager, VMware Asia-Pasifik dan Jepang.
Virtualisasi adalah teknologi utama
Terbukti, virtualisasi telah memperkenalkan manfaat-manfaat yang siginifikan untuk enterprise dan keberlanjutan lingkungan. Organisasi telah dapat mengurangi belanja modal dan operasional, juga meminimalkan setiap potensi kehilangan pendapatan yang berhubungan dengan downtime, pemadaman dan kegagalan, serta memungkinkan tenaga kerja mereka untuk pindah dari tugas-tugas rutin ke proyek-proyek strategis dan menambah nilai ke bisnis.
Virtualisasi juga telah menjadi penyumbang positif untuk setiap model data center berkelanjutan. Untuk setiap watt listrik yang digunakan untuk daya dan pendinginan kumpulan server dan data center, pembangkitan dan pendistribusian energi telah menciptakan paling sedikit 5 watts, meliputi kehilangan, kebocoran, penaikan dan penurunan transformasi.
“IDC Server Economies Index mengesahkan perspektif bahwa Virtualisasi adalah teknologi utama di Asia Pasifik dan akan terlihat menonjol di agenda Prediksi IDC di tahun-tahun mendatang,” kata Avneesh Saxena, Group Vice President, Domain Research Group, IDC.
Dampak virtualisasi di Asia Pasifik
Saat membandingkan hasil penelitian dari negara-negara yang diteliti, temuan-temuan memperlihatkan pasar yang matang yaitu Australia, Jepang dan Singapura memperoleh USD8 miliar lebih banyak dalam penghematan yang benar-benar terjadi dari virtualisasi dibandingkan dengan pasar yang berkembang. Untuk pasar yang matang ini, wilayah penghematan utama adalah biaya server yang dapat dihindari, yang menyumbang hampir setengah (47%) dari keseluruhan penghematan di empat wilayah.
Sangat kontras, pasar yang berkembang yaitu Republik Rakyat Cina (RRC), India, Indonesia, Malaysia dan Thailand memperlihatkan ramalan penghematan yang lebih besar dari virtualisasi sampai USD15 miliar daripada pasar yang matang. Dikarenakan saat ini memiliki tingkat virtualisasi terendah, Cina memperlihatkan perbedaan yang signifikan antara sejarah dan ramalan penghematan – USD39 miliar – menghasilkan Cina dapat meningkatkan biaya yang dapat dihindari lebih dari lima kali.
Virtualisasi dapat menghindari hampir USD 100 miliar biaya
Keseluruhan, hasil penelitian memperlihatkan bahwa wilayah utama dimana biaya dapat dihindari adalah kategori belanja server, tercatat hampir setengah (USD48.7 miliar) dari seluruh penghematan biaya di seluruh kawasan dari 2003-2020. Wilayah penghematan berikutnya yang signifikan adalah dihindarinya biaya daya (USD17.6 miliar) yang berhubungan dengan server. Ramalan memperlihatkan, bagaimanapun, bahwa penghematan lahan fisik dan daya terkikis dari waktu ke waktu dalam persentase keseluruhan penghematan biaya.
“Angka-angka ramalan mengarah ke masa yang menarik dimana banyak perusahaan akan memulai perjalanan mereka ke software-defined datacenter – generasi berikutnya infrastruktur cloud computing, dimana kontrol data center seluruhnya diotomatisasi oleh software,” kata Dutton. “Setiap era baru memerlukan generasi baru infrastruktur untuk enterprise, dan kami akan terus melihat virtualisasi memberi kemampuan masyarakat dan organisasi untuk berpidah dari komputasi era client server ke era mobile cloud.”
Dampak virtualisasi server di pasar Indonesia
Di Indonesia, IDC Server Economies Index memperkirakan dampak positif ekonomi dari virtualisasi server sampai tahun 2020 sekitar USD1.25 miliar di beberapa wilayah utama:
- USD798 juta belanja server dapat dihindari. Belanja server mengacu pada pendapatan customer yang diperoleh dari penjualan server fisik.
- USD203 juta biaya daya dan pendinginan dapat dihindari. Ini mengacu pada biaya energi untuk daya dan pendinginan server di data center.
- USD6 juta biaya ruang lantai dapat dihindari. Ini mengarah pada biaya lahan dan bangunan yang berhubungan dengan penempatan server fisik.
- USD242 juta biaya admin server dapat dihindari. Ini mengarah pada biaya admin yang dapat dihindari dan termasuk perkiraan IDC tentang biaya tenaga kerja dan biaya perusahaan yang diperlukan untuk mengelola setiap server fisik.
Andreas Kagawa, Country Manager, VMware Indonesia mengatakan, “Virtualisasi telah berkembang jauh melebihi sekedar konsep di Asia Pasifik. Virtualisasi telah berkembang menjadi sumber keuntungan kompetitif di bisnis saat ini. Faktanya, pelaku bisnis melihat virtualisasi sebagai bagian tak terpisahkan strategi perusahaan dan TI mereka. Seperti yang terlihat dari hasil IDC Server Economies Index, sebuah penelitian yang digagas oleh VMware dan dilakukan oleh IDC, banyak perusahaan yang mengakui virtualisasi sebagai pendorong bisnis mereka. Virtualisasi terbukti menjadi pendekatan yang optimum karena ia menawarkan untuk organisasi kelincahan bisnis dan menyederhanakan operasional secara dramatis.”











