[PR] Teknologi Microsoft Dukung Transformasi Industri Manufaktur dan Distribusi di Indonesia
JAKARTA, 11 Desember 2013 – Pergeseran peran konsumen akibat akses ke informasi dan tumbuhnya komunitas mempengaruhi laju adopsi dan keberhasilan produk atau jasa. Strategi rantai pasok harus menyesuaikan dinamika bisnis yang bergerak mengikuti gejolak ekonomi agar dapat berjalan seefisien mungkin, namun tetap mampu memberikan kualitas yang unggul. Di Indonesia, upaya ini lebih menantang akibat regulasi yang kompleks, biaya tenaga kerja yang tinggi, tingkat kesiapan infrastruktur, iklim bisnis, serta struktur perpajakan.
![[PR] Teknologi Microsoft Dukung Transformasi Industri Manufaktur dan Distribusi di Indonesia 1 (ki-ka): Tony Prasetiantono – Direktur Pusat Studi Ekonomi & Kebijakan Publik, Universitas Gadjah Mada; Meisari Arvini Hidayati – Business Group Lead, Application Platform, Microsoft Indonesia; Sooho Choi – Managing Director, Freight & Logistics, Accenture Asia Pacific; Budi Sabekti – Presales Director, Enterprise Group, HP Indonesia](https://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2013/12/Microsoft-Manufacturing-Distribution-Summit-500x281.jpg)
Microsoft berkolaborasi dengan Accenture dan Hewlett-Packard menyelenggarakan seminar bertajuk Indonesia Manufacturing and Distribution Summit (IMDS) 2013. Acara ini mengangkat tren yang ditandai pentingnya industri berinovasi, agar tetap tumbuh di pasar yang kompetitif, dan mampu beradaptasi terhadap lingkungan yang terus berubah.
Teknologi yang Inovatif Mempercepat Siklus Pengembangan Produk
Di pasar yang semakin berorientasi pada konsumen, siklus produk lebih pendek dan permintaan yang unik menambah kompleksitas desain. Merealisasi ide menjadi produk atau jasa melalui proses yang efisien hanya dimungkinkan pada model bisnis yang dinamis di lingkungan yang bergerak serba cepat.
Tony Prasetiantono – Direktur Pusat Studi Ekonomi & Kebijakan Publik, Universitas Gadjah Mada, dalam sambutannya mengatakan, “Ada empat tren yang perlu dipertimbangkan oleh perusahaan manufaktur agar tetap inovatif, yaitu: biaya tenaga kerja, modal investasi, biaya energi, serta perlunya bergerak cepat. Industri manufaktur dan distribusi memerlukan solusi yang memberi keunggulan bersaing secara dinamis di lingkup global, merespon permintaan konsumen dengan cepat, sekaligus menekan biaya operasi.”
“Agar seluruh elemen produksi mulai dari perancangan hingga launch ke konsumen bekerja secara efektif, diperlukan tool yang memungkinkan inovasi dan integrasi. Solusi teknologi Microsoft memungkinkan semua informasi di setiap tahap ini dikelola secara efisien. Lebih dari itu, solusi ini juga mengintegrasikan fungsi-fungsi pemasaran, penjualan, keuangan, hingga rantai pasok, sehingga ide-ide produk dapat lebih cepat direalisasi daripada yang dilakukan pesaing,” lanjut Tony.
Memenangkan Kompetisi di Pasar yang Bergejolak
Bank Dunia mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6% sementara investasi turun dari 12% bulan Juni 2012 menjadi hanya 5% bulan Juni 2013 akibat pengetatan moneter. Sebaliknya, belanja konsumsi meningkat pesat. Tahun 2020, diprediksi 87% atau 53 juta rumah tangga di Indonesia akan berada di kelas konsumsi masal. Meskipun pada tingkat makro tampak lesu, konsumen masih membeli – sehingga menarik minat perusahaan-perusahaan luar untuk berinvestasi dan memindahkan fasilitas produksi ke Indonesia.
Sooho Choi – Managing Director, Freight & Logistics, Accenture Asia Pacific mengatakan, “Riset kami menunjukkan banyak perusahaan mengantisipasi pasar yang bergejolak akibat ketidakstabilan nilai tukar global, biaya komoditas yang tak dapat diprediksi, ketidakpastian permintaan konsumen, kondisi sosial dan politik, serta potensi perubahan kebijakan pemerintah.” [1]
Hanya sekitar 9% dari perusahaan dalam survei Accenture menunjukkan peningkatan produksi, profit, serta efisiensi tenaga kerja lebih dari 10% sejak 2011. Kelompok yang disebut “pemimpin manufaktur” ini juga menunjukkan kenaikan pendapatan dan pertumbuhan lebih dari 10% sejak 2011.
Sooho menambahkan, “Para pemimpin manufaktur ini terus menjaga keunggulan dalam biaya dan kualitas layanan, serta menjaga agar kegiatan operasi tetap dinamis dengan menggabungkan inovasi, kemampuan adaptasi, serta penanganan risiko dalam strategi rantai pasok mereka.”
“Microsoft memiliki posisi kuat untuk menyediakan teknologi yang dapat membantu industri manufaktur dan distribusi mengoptimalkan alur kerja, memudahkan pengelolaan aset, merampingkan proses melalui otomatisasi, dan mencapai target melalui pengelolaan alur informasi secara cepat,” lanjutnya.
Microsoft Dukung Daya Saing Industri Manufaktur melalui Efisiensi dan Integrasi
Menghadapi dinamika rantai pasok global, industri manufaktur modern harus mampu mengelola stakeholder yang kompleks. Mengolah dan melakukan analisa terhadap data dalam jumlah besar yang terus tumbuh secara eksponensial dan tidak terstruktur (atau big data) menggunakan tool business intelligence (BI) dapat menghasilkan insight yang relevan dengan mudah sehingga berguna dalam pengambilan keputusan.
Meisari Arvini Hidayati – Business Group Lead, Application Platform, Microsoft Indonesia, mengatakan, “Mengolah data transaksi menjadi informasi yang bernilai merupakan kunci sukses industri manufaktur dan distribusi. Microsoft SQL Server 2012 merupakan platform database dan informasi terbaik yang memberi Total Cost of Ownership (TCO) paling kompetitif untuk analisa big data. Fitur SQL Server AlwaysOn mampu meminimalkan downtime, sehingga memberi ketersediaan tinggi, serta pemulihan akibat bencana.”
“Microsoft juga bekerja sama dengan para mitranya mengembangkan berbagai aplikasi industri berbasis .NET dan SQL Server. Integrasi Dynamics AX, Dyamics CRM, dengan SQL Server memungkinkan industri manufaktur dan distribusi mengambil kesimpulan dan tindakan yang tepat dari data paling kompleks sekalipun, untuk meningkatkan produktivitas perencanaan dan operasi, mendorong inovasi, merespon perubahan secara cepat, dengan cara yang mudah digunakan,” lanjutnya.
Solusi Data Warehouse yang Ikut Tumbuh bersama Bisnis
Agar investasi TI mampu memberi kemampuan menghasilkan insight yang berguna dalam pengambilan keputusan strategi rantai pasok, Microsoft dan HP menawarkan platform data warehouse untuk memberi pemahaman tentang informasi penting dari data bisnis berukuran besar sekalipun dengan sangat cepat, hemat biaya, fleksibel, dan dapat disesuaikan dengan pertumbuhan bisnis.
Budi Sabekti – Enterprise Group Presales Director, HP Indonesia, mengatakan, “Industri manufaktur dan distribusi menyadari bahwa integrasi berbagai jenis informasi dari sumber yang berbeda-beda menjadi satu infrastruktur dapat memberi nilai tambah bisnis melalui peningkatan pendapatan, penghematan, serta model bisnis yang baru.”
“HP AppSystem untuk Microsoft SQL Server 2012 Parallel Data Warehouse mampu menganalisa data dalam jumlah sangat besar, menghasilkan insight atau kesimpulan yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan secara efektif. Solusi ini memberi kemampuan industri memanfaatkan informasi untuk menjadikan operasi mereka lebih efisien, efektif, dan kompetitif,” lanjut Budi.
[1] ‘Global Manufacturing Study on How Leading Manufacturers Thrive in a World of Ongoing Volatility and Uncertainty’, Accenture, 2013













