Direct Release: CommVault Umumkan Survei IDC Temukan Organisasi Membutuhkan Strategi Data yang Lebih Terpusat

Reading time:
August 4, 2015

Realita dalam Manajemen Data: Survei IDC Menemukan bahwa Organisasi Membutuhkan Strategi Data yang Lebih Terpusat

Laporan menunjukkan bahwa perusahaan gagal mendapatkan nilai maksimal dari data mereka karena pendekatan departmental ke manajemen data

  • Penemuan memastikan pandangan CommVault bahwa organisasi di Asia Pasifik akan berjuang untuk mewujudkan nilai bisnis dari aset data utama tanpa strategi manajemen data holistik.
  • Data tersebar di departemen yang berbeda dan lokasi on-premise, di pusat data pihak ketiga dan di lingkungan highly-virtualised. Proses-proses manajemen data utama sering tidak terdefinisi, dikelola atau terukur dengan baik, menimbulkan kekhawatiran C-level.
  • Solusi yang dapat memungkinkan manajemen end-to-end, perlindungan dan akses semua aset data sangat dipertimbangkan oleh CIOs di Asia Pasifik, dan mendukung ketertarikan untuk mengadopsi di skala global.

JAKARTA, Indonesia – 3 Agustus, 2015: CommVault (NASDAQ: CVLT), pemimpin dalam perlindungan data dan pengelolaan informasi perusahaan, hari ini mengumumkan penemuan-penemuan dari survei IDC baru dan whitepaper yang fokus pada cara silo data di organisasi di Asia Pasifik membatasi kemampuan untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mendasar, yang menyebabkan meningkatnya biaya TI.

CommVault menugaskan IDC untuk melakukan survei terhadap 600 pembuat keputusan TI di Asia Pasifik dan India agar lebih memahami bagaimana mereka dapat memanfaatkan data, sebagai satu aset strategis sekaligus meminimalisir risiko dan biaya yang terkait. Meskipun fokus pada lokasi geografis tertentu, hasil survei ini menunjukkan perusahaan-perusahaan di dunia menghadapi masalah-masalah data yang sama.

Mark Bentkower, CISSP, Director Systems Engineering ASEAN, CommVault
Mark Bentkower, CISSP, Director Systems Engineering ASEAN, CommVault

Temuan-temuan ini, khusus seputar bagaimana pengelolaan data yang berbeda menyebabkan kenaikan biaya dan risiko, menyerukan kekhawatiran menyeluruh dari CIO di dunia. CIO berada pada posisi utama untuk mencegah isu-isu tersebut dan menggelar solusi yang diperlukan untuk mengelola organisasi mereka untuk keberhasilan pengelolaan data.

Penemuan-penemuan utama dari survei IDC antara lain:

  • Dua tantangan manajemen data teratas untuk APAC meliputi permintaan pengambilan data yang lebih mudah dan lebih cepat dan pertumbuhan eksponensial dan kompleksitas data. Namun, Indonesia menempati urutan pertama untuk penarikan data yang lebih cepat, lebih mudah (92 persen), diikuti oleh tekanan anggaran (88 persen).

–          Organisasi di Singapura menyadari kebutuhan pengambilan data yang lebih cepat dan lebih mudah (86 persen) sebagai tantangan terbesar. Ini merupakan pergeseran dari 12 bulan lalu di mana keduanya berada pada posisi sebaliknya.

–          Organisasi di Thailand menyadari tekanan anggaran (52 persen) sebagai tantangan utama, sebagai tantangan ke-4 terbesar di wilayah APAC.

  • 40 persen dari pembuat keputusan TI di wilayah APAC melaporkan bahwa backup, recovery, perlindungan data dan strategi analitik masih ditangani di tingkat departmen.

–          Hampir setengah (42 persen) dari perusahaan di Indonesia merujuk pada tren menjaga manajemen data dan strategi analitik pada tingkat departmental yang menyebabkan data silo. Manajemen data silo ini telah membawa sejumlah masalah mendasar bagi tim TI, dengan 38 persen yang menyatakan bahwa keamanan sebagai perhatian utama, dibandingkan dengan 29 persen untuk APAC secara keseluruhan.

  • Saat mempertimbangkan solusi backup dan recovery, pemimpin TI di Indonesia mempertimbangkan platform end-to-end sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan-keputusan.

Menurut Mark Bentkower, CISSP, Director Systems Engineering ASEAN, CommVault, penemuan-penemuan laporan ini memvalidasi pentingnya kecepatan dan scale dalam mengelola informasi bisnis yang penting.

“CIO di seluruh dunia menghadapi masalah yang sama, yaitu silo pengelolaan data mereka menciptakan bottlenecks yang mengakibatkan hilangnya peluang dan menghambat organisasi mendapatkan nilai data yang maksimal sebagai aset yang kuat, dan strategis,” ujar Bentkower. “Dengan menggunakan pendekatan yang lebih terintegrasi ke manajemen data, mereka dapat lebih mudah memanfaatkan teknologi baru dan lebih terbuka seperti cloud, sekaligus meningkatkan keamanan informasi.”

Masalah-masalah silo data disoroti oleh peralihan menuju apa yang disebut IDC sebagai “3rd Platform,” dimana semakin banyak perusahaan yang meningkatkan fokusnya pada pandangan holistik sistematis dari data mereka untuk membuat keputusan perusahaan secara efektif. Pendekatan 3rd Platform memberikan peluang yang signifikan bagi perusahaan untuk mendukung pertumbuhan dan inovasi di masa depan dan memperkuat risiko departmental ke manajemen data.

Daniel-Zoe Jimenez, Senior Program Manager, Big Data, Analytics, Enterprise Applications & Social IDC mengatakan, “Di era 3rd Platform, menjadi sebuah organisasi berbasis data bukan lagi sebuah pilihan, tapi suatu keharusan. Membuat keputusan berdasarkan pendekatan yang berbasis data tidak hanya meningkatkan  akurasi hasil, tetapi juga memberikan konsistensi dalam memberikan hasil diinterpretasikan dan memberikan feedback ke perusahaan. Perubahan penting cara data disimpan, dikelola dan dianalisis menuntut organisasi untuk pindah dari pendekatan departmental (atau siloed) saat mengelola aset data mereka ke dalam budaya data-driven terintegrasi.”

Hasil survei dan whitepaper, berjudul “The Data-Driven Organisation: Unlocking Greater Value from Data and Minimising its Associated Costs and Risks,” mencakup 10 negara: Australia, Selandia Baru, Tiongkok, Hong Kong, Korea, Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia dan India.

Untuk mengunduh hasil survei dan whitepaper, mohon kunjungi: http://connectus.commvault.com/LP=1613

Share

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

October 29, 2026 - 0

Review Lenovo Legion Pro 5i Gen 10: Laptop Gaming Premium dengan RAM 32 GB Paling Worth It?

Ini adalah laptop High Performance kelas atas yang super worth…
October 28, 2026 - 0

Review HP Omnibook Ultra 14 (2026): Super Tipis, Desain Mewah, Performa Maksimal

Ini adalah laptop kelas premium dari HP yang beneran mewah!…
October 26, 2026 - 0

Review Infinix XBOOK 14 Neo: Laptop 2026 yang Terjangkau, Ringan, dng Warna Bodi Ceria

Laptop dengan nama “NEO” ini ternyata harganya mulai dari 7…
October 23, 2026 - 0

Review Axioo Hype Ai 5 (G3): Kencang & Irit dgn Intel Core Series 3 Wildcat Lake, Harga Terjangkau!

Ini salah satu laptop “Core 5 Series 3” paling terjangkau…

Gaming

October 31, 2026 - 0

Nintendo Indie World Showcase Pamerkan 23 Game Indie

Nintendo Indie World Showcase untuk Oktober 2026 menampilkan 23 game…
October 30, 2026 - 0

GTA 6 Dikabarkan Butuh Download 210 GB di PS5

GTA 6 dikabarkan akan meminta pemainnya untuk mengunduh file data…
October 30, 2026 - 0

Razer Hadirkan Reclusa Mini 65%, Keyboard Ringkas Dengan Magnetic Switch

Razer Reclusa Mini tampil sebagai keyboard gaming berskala 65% dengan…
October 30, 2026 - 0

ASUS Rilis ROG Swift OLED PG259QWS Ace & Strix OLED XG259QWPG Ace

ASUS ROG merilis monitor gaming kelas OLED 720Hz dan 540Hz…