Direct Release: Eksploitasi Satelit Oleh Kelompok Spionase Cyber Rusia Untuk Serang 45 Negara

Reading time:
September 11, 2015

10 September 2015

Ketika menginvestigasi aktor dibelakang aksi spionase cyber Rusia yang terkenal kejam, Turla, peneliti Kaspersky Lab menemukan metodeyang dipergunakan oleh kelompok Turla untuk menghindari pendeteksian aktivitas dan lokasi fisik mereka. Sebagai solusi untuk anonimitas, kelompok tersebut memanfaatkan lemahnya keamanan dalam jaringan satelit global.

Turla adalah kelompok spionase cyber canggih yang telah aktif selama lebih dari 8 tahun. Para penyerang di balik Turla telah menginfeksi ratusankomputer di lebih dari 45 negara, termasuk Kazakhstan, Rusia, China, Vietnam, dan AS. Beberapa organisasi yang terkena dampaknya meliputi lembaga pemerintahan, kedutaan, militer, pendidikan, penelitian, dan perusahaan farmasi. Pada tahap awal, epic backdoor akan melakukan profiling korban terlebih dahulu. Khusus untuk target penting, penyerang akan menggunakan mekanisme komunikasi berbasis satelit yang ekstensif pada tahap akhir serangan, untuk membantu mereka dalam menyembunyikan jejak.

image001 (1)

Komunikasi melalui satelit dikenal sebagai alat untuk menyiarkan tayangan televisi dan merupakan komunikasi yang aman; tetapi, satelit juga digunakan untuk menyediakan akses ke Internet. Layanan internet seperti ini kebanyakan digunakan di lokasi-lokasi terpencil, di mana tipe-tipe pengaksesan Internet lainnya tidak stabil atau lambat, atau bahkan tidak tersedia sama sekali. Salah satu tipe koneksi Internet berbasis satelit yang paling banyak tersebar dan tidak mahal adalah koneksi “downstream-only.”

Dalam kasus ini, permintaan yang keluar dari PC pengguna dikomunikasikan melalui jalur konvensional (koneksi kabel atau GPRS), dimana trafficdata yang masuk dikirim dari satelit. Teknologi ini memungkinkan pengguna untuk mengunduh dengan kecepatan yang relatif cepat. Namun, ada satu kelemahan besar yaitu semua traffic downstream dikembalikan ke PC tanpa dienkripsi. Pengguna yang berniat jahat dengan mudah menggunakan set peralatan dan software yang tidak mahal sekalipun dapat dengan mudah mencegat traffic tersebut dan mengakses seluruh data milik para user yang sedang mengunduh.

Kelompok Turla mengambil keuntungan dari kelemahan ini dengan cara yang berbeda: mereka menggunakannya untuk menyembunyikan lokasi server Command and Control (C&C), salah satu bagian paling penting dari infrastruktur kelompok jahat tersebut. Server C&C secara esensial adalah sebuah “homebase” untuk penyebaran malware ke mesin-mesin target. Menemukan lokasi server tersebut dapat menuntun penyelidik untuk menyibak detail mengenai aktor di balik aksi ini. Berikut adalah cara-cara yang digunakan oleh kelompok Turla untuk menghindari resiko tersebut:

  1. Pertama-tama, kelompok ini ‘mendengarkan’ downstream dari satelit untuk mengidentifikasi alamat IP yang aktif dari pengguna Internet berbasis satelit yang sedang online saat itu.
  2. Kemudian mereka memilih alamat IP yang online untuk digunakan sebagai kedok server C&C, tanpa sepengetahuan pengguna IPtersebut.
  3. Mesin yang terinfeksi Turla kemudian diberi instruksi untuk menarik data dari IP yang terpilih milik pengguna Internet berbasis satelit regular. Data tersebut melintas melalui jalur konvensional, ke teleport dari satelit penyedia jasa Internet, ke satelit, dan akhirnya turun kepengguna IP yang dipilih.

Yang menarik, pemilik resmi IP yang dimanfaatkan oleh penyerang untuk menerima data dari mesin yang terinfeksi, juga akan menerima paket data ini, tetapi tidak menyadarinya. Hal ini dikarenakan penyerang Turla menginstruksikan mesin yang terinfeksi untuk mengirim data ke port yang, di kebanyakan kasus, tertutup secara default. Jadi PC dari si pengguna resmi hanya akan menaruh paket ini, sementara server C&C Turla, yang menahan port supaya terbuka, akan menerima dan memproses data yang dicuri.

Hal menarik lainnya adalah taktik para aktor Turla seringkali menggunakan satelit dari penyedia koneksi Internet yang berlokasi di Timur Tengah dan Afrika. Dalam penelitian Kaspersky Lab, para ahli melihat kelompok Turla menggunakan IP dari para penyedia jasa Internet di Kongo, Lebanon, Libia, Niger, Nigeria, Somalia dan Arab Saudi.

Cahaya satelit yang digunakan para penyedia jasa Internet di negara-negara ini biasanya tidak meliputi wilayah Eropa dan Amerika Utara, membuat kebanyakan peneliti keamanan di negara-negara tersebut sulit untuk menginvestigasi serangan semacam ini.

image002 (2)

“Dahulu, kita telah melihat sekurang-kurangnya 3 aktor berbeda yang menggunakan Internet berbasis satelit untuk menyembunyikan operasi mereka. Dari ketiganya, solusi yang dikembangkan kelompok Turla merupakan yang paling menarik dan tidak biasa. Mereka mampu mencapai level paling tinggi anonimitas dengan mengeksploitasi teknologi yang dipergunakan secara luas – satelit Internet satu arah. Para penyerang dapat berada di mana saja dalam jangkauan satelit yang mereka pilih, sebuah area yang luasnya dapat mencapai lebih dari ribuan kilometer persegi,” ujar Stefan Tanase, Peneliti Keamanan Senior di Kaspersky Lab. “Hal ini membuat mereka hampir tidak mungkin untuk dilacak. Seiring meningkatnya popularitas penggunaan metode tersebut, sangat penting untuk administrator sistem untuk menjalankan strategi pertahanan yang tepat untuk mengurangi serangan seperti ini.”

Produk Kaspersky Lab telah sukses mendeteksi dan memblok malware yang digunakan oleh aktor ancaman Turla dengan nama pendeteksian berikut:

Backdoor.Win32.Turla.*
Rootkit.Win32.Turla.*
HEUR:Trojan.Win32.Epiccosplay.gen
HEUR:Trojan.Win32.Generic

Informasi lebih lanjut tentang serangan ditargetkan oleh Turla tersedia bagi pelanggan Kaspersky Security Intelligence Services. Hubungi:intelreports@kaspersky.com

Share

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

October 29, 2026 - 0

Review Lenovo Legion Pro 5i Gen 10: Laptop Gaming Premium dengan RAM 32 GB Paling Worth It?

Ini adalah laptop High Performance kelas atas yang super worth…
October 28, 2026 - 0

Review HP Omnibook Ultra 14 (2026): Super Tipis, Desain Mewah, Performa Maksimal

Ini adalah laptop kelas premium dari HP yang beneran mewah!…
October 26, 2026 - 0

Review Infinix XBOOK 14 Neo: Laptop 2026 yang Terjangkau, Ringan, dng Warna Bodi Ceria

Laptop dengan nama “NEO” ini ternyata harganya mulai dari 7…
October 23, 2026 - 0

Review Axioo Hype Ai 5 (G3): Kencang & Irit dgn Intel Core Series 3 Wildcat Lake, Harga Terjangkau!

Ini salah satu laptop “Core 5 Series 3” paling terjangkau…

Gaming

October 30, 2026 - 0

GTA 6 Dikabarkan Butuh Download 210 GB di PS5

GTA 6 dikabarkan akan meminta pemainnya untuk mengunduh file data…
October 30, 2026 - 0

Razer Hadirkan Reclusa Mini 65%, Keyboard Ringkas Dengan Magnetic Switch

Razer Reclusa Mini tampil sebagai keyboard gaming berskala 65% dengan…
October 30, 2026 - 0

ASUS Rilis ROG Swift OLED PG259QWS Ace & Strix OLED XG259QWPG Ace

ASUS ROG merilis monitor gaming kelas OLED 720Hz dan 540Hz…
October 30, 2026 - 0

Sony Hadirkan Cover Transparan Prism Collection Untuk DualSense & PS5

Sony merilis cover transparan bernama Prism Collection untuk DualSense dan…