Supercomputer LineShine Jadi yang Pertama Tembus 2 ExaFLOPS Pakai CPU
China kembali merebut posisi puncak daftar TOP500 lewat supercomputer LineShine yang kini menjadi supercomputer tercepat di dunia. Sistem yang dikembangkan oleh Shenzhen Cloud Computing Center dan ditempatkan di National Supercomputing Center Shenzhen ini mencatat performa LINPACK sebesar 2,198 exaFLOPS. Pencapaian tersebut menjadikan LineShine sebagai supercomputer pertama yang mampu mempertahankan performa lebih dari 2 exaFLOPS dengan hanya mengandalkan CPU tanpa akselerator GPU.

LineShine menggunakan platform komputasi buatan China bernama LingKun dengan prosesor LX2 berbasis arsitektur Armv9 yang memiliki 304 core per chip. Sistem tersebut menggabungkan sekitar 13,79 juta core CPU yang bekerja pada frekuensi 1,55 GHz dengan performa puncak teoritis mencapai 2,736 exaFLOPS. Infrastruktur supercomputer ini juga dilengkapi jaringan interkoneksi LingQi serta sistem operasi Kylin OS yang dikembangkan di China.
Keberhasilan LineShine menjadi sorotan karena sebagian besar supercomputer modern saat ini mengandalkan kombinasi CPU dan GPU untuk mencapai performa tingkat exascale. Supercomputer El Capitan dari Amerika Serikat, yang sebelumnya berada di posisi pertama TOP500, menggunakan kombinasi CPU dan GPU dan mencatat performa LINPACK sebesar 1,742 exaFLOPS. Pendekatan LineShine menunjukkan bahwa desain berbasis CPU saja masih mampu bersaing di tingkat komputasi paling tinggi.
LineShine Meraih Peringkat Pertama di Daftar TOP500
Daftar TOP500 edisi Juni 2026 yang diumumkan dalam ajang ISC 2026 di Hamburg, dan menjadi momen kembalinya China ke posisi teratas supercomputer dunia. China terakhir kali menempati posisi tersebut melalui Sunway TaihuLight di tahun 2017 sebelum dominasi beralih ke Amerika Serikat. Pencapaian terbaru ini juga menunjukkan kemajuan China dalam mengembangkan teknologi komputasi berperforma tinggi secara mandiri.
Baca Juga: Masuk Pasar NAS, Xiaomi Hadirkan Smart Storage Perdananya
Meski LineShine berhasil menjadi supercomputer tercepat saat ini, persaingan pengembangan supercomputer global masih terus berlangsung dengan pendekatan teknologi yang berbeda-beda. Perkembangan AI dan kebutuhan komputasi skala besar diperkirakan akan semakin mendorong inovasi pada desain CPU, GPU, maupun arsitektur komputasi lainnya. Menurut kalian, apakah pendekatan CPU-only masih memiliki masa depan di tengah dominasi GPU pada era AI saat ini?














