Pendapatan Longsys Melonjak Hingga Hampir 74% Berkat AI
Perusahaan memori asal China kini ikut menikmati ledakan permintaan komponen AI. Salah satunya adalah Shenzhen Longsys Electronics, induk dari merek Lexar, yang memproyeksikan laba semester pertama 2026 melonjak hingga 73,636% dibandingkan tahun lalu.
Longsys memperkirakan laba bersih mencapai USD1,36 miliar hingga USD 1,62 miliar atau sekitar Rp24,56 triliun hingga Rp29,25 triliun. Pendapatannya juga diperkirakan menembus USD 3,24 miliar hingga USD 3,68 miliar (Rp55 triliun-Rp62,6 triliun), lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan tersebut didorong tingginya permintaan chip memori dan storage untuk infrastruktur AI. Untuk mengamankan pasokan, Longsys mengaku telah menjalin kontrak jangka panjang dengan pemasok wafer memori.
Baca Juga: NVIDIA Bakal Rilis RTX 5080 Super dengan TGP 415W • Jagat Review
Meski tidak menyebut nama pemasoknya, banyak perusahaan China kini beralih ke CXMT dan YMTC. Bahkan Corsair, Dell, HP, hingga Apple disebut mulai melirik atau mengupayakan akses ke chip dari perusahaan China tersebut karena kelangkaan memori diperkirakan masih berlanjut hingga 2027.
Kinerja Longsys juga membuat sahamnya naik sekitar 12,5%. Perusahaan itu bahkan telah mendapat izin menghimpun dana hingga USD 544 juta atau sekitar Rp9,82 triliun untuk mengembangkan produk memori dan storage yang difokuskan untuk kebutuhan AI. Menurut kalian, apakah perusahaan memori China mulai menjadi ancaman serius bagi Samsung, SK hynix, dan Micron?














